Event

Event
My vacation with my friends FBI

Senin, 03 November 2014

PRAKTIKUM DESAIN BASIS DATA VI NORMALISASI

NORMALISASI
A.    Landasan Teori
            Normalisasi  database biasanya jarang dilakukan  dalam database skala kecil, dan dianggap tidak diperlukan pada penggunaan personal. Namun sering dengan berkembangnya informasi yang dikandung dalam sebuah database, proses normalisasi akan sangat membantu dalam menghemat ruang yang digunakan oleh setiap tabel di dalamnya, sekaligus mempercepat proses permintaan data. Berikut ini dipaparkan metodologi logis sederhana untu menormalkan model data dalam sebuah database.

Proses normalisasi model data dapat diringkas sebagai berikut :
o   Temukan entitas-entitas utama dalam model data
o   Temukan hubungan antara setiap entitas
o   Tentuan atribut yang dimiliki masing-masing entitas
Normalisasi model data dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sederhana, mengubahnya agar memenuhi apa yang disebut sebagai bentuk normal pertama, kedua, lalu ketiga secara berurutan.
            Normalisasi merupakan suatu proses untuk mengubah suatu tabel yang memiliki masalah tertentu ke dalam dua buah tabel atau lebih yang tidak lagi memiliki masalah tersebut (Abdul Kadir, 2008).

Langkah-Langkah Normalisasi
1.      Unnormalization Form
            Bentuk yang tidak normal dimaksudkan suatu kumpulan data akan diolah yang diperoleh dari format-format yang beraneka ragam, masih terdapat duplikasi, tidak sempurna atau tidak lengkap, dan sesuai fakta lapangan. Bentuk ini didapat dari dokumen yang ada di alapangan atau manual dengan atribut bukan nilai sederhana.
2.      Bentuk Normal Pertama (1NF)
Suatu tabel dianggap normal ke satu (1NF) jika :
- Tidak terdapat baris yang bernilai ganda atau duplikat.
- Masing - masing baris bernilai tunggal dan tidak bernilai null.
Langkah – langkah :
- Isikan setiap data bernilai tunggal dan tidak null
- Membuang perulangan data dalam satu baris dengan baris yang lain.
            Sebuah model data dikatakan memenuhi bentuk normal pertama apabila setiap atribut yang dimilikinya memiliki satu dan hanya satu nilai. Apabila ada atribut yang memiliki nilai lebih dari satu, atribut tersebut adalah kandidat untuk menjadi entitas tersendiri. Entitas utama untuk database tugas matakuliah tentu saja Tugas Matakuliah. Sebagian atribut yang dimiliki entitas ini tertera dalam Gambar 1.

 Gambar 1: Entitas pertama dalam contoh model data untuk database tugas matakuliah.

            Atribut Nama Kelas mencantumkan kelas-kelas di mana tugas tersebut berlaku. Apabila pendaftar untuk sebuah matakuliah melebihi kapasitas ruangan yang dimiliki fakultas, kebijakan yang umum diambil Kepala Program Studi adalah membagi kegiatan perkuliahan untuk matakuliah tersebut menjadi beberapa kelas. Karenanya atribut ini rentan memiliki nilai jamak, dan lebih sesuai menjadi entitas baru atau atribut dari entitas lain. Untuk sementara kita membuat entitas baru, Kelas, dimana sebagian atributnya berasal dari Tugas Matakuliah yang secara logis lebih sesuai menjadi atribut entitas ini. Sementara itu, hampir semua atribut entitas Tugas Matakuliah selain Nama Kelas memiliki nilai tunggal (dengan asumsi setiap matakuliah diampu oleh satu dosen saja).

Relasi Antar-Entitas dan Identifier
            Masalah yang kita hadapi sekarang adalah menghubungkan Tugas Matakuliah dengan Kelas. Satu tugas dapat diberikan pada beberapa kelas yang berbeda; dalam terminologi pemodelan data, ini berarti antara entitas Tugas Matakuliah dan entitas Kelas terdapat relasi 1:N (atau 1-N) untuk nilai N lebih dari satu. Cara paling intuitif untuk menghubungkan kedua entitas tersebut adalah menyertakan identitas satu entitas sebagai atribut entitas lain. Identitas sebuah entitas haruslah unik untuk menghindarkan ambiguitas saat akan merujuk pada satu objek khusus dari entitas tersebut. Entitas Tugas Matakuliah akan menggunakan pengidentifikasi arbitrer berupa angka yang berbeda antara satu objek Tugas Matakuliah dengan objek Tugas Matakuliah lain. Entitas Kelas dapat diidentifikasi dengan matakuliah dan kode kelas yang bersangkutan, sehingga kita cukup menambahkan atribut pengidentifikasi (identifier) dalam kedua entitas. Entitas ini beserta semua atribut baru dan hubungannya dengan Tugas Matakuliah diperlihatkan dalam Gambar 2, dengan menggunakan notasi relasi crows foot (dengan simbol “kaki gagak” menunjuk pada entitas jamak)
          Gambar 2: Hubungan antara Tugas Matakuliah dan entitas baru, Kelas.

            Sejauh ini tidak ada atribut entitas yang memiliki nilai lebih dari satu, sehingga rasanya cukup aman mengatakan bahwa model ini memenuhi bentuk normal pertama.
3.      Bentuk Normal Kedua (2NF)
Bentuk normal kedua (2NF) terpenuhi jika :
- Harus telah berbentuk normal pertama (1NF).
- pada sebuah tabel semua atribut yang tidak termasuk dalam primary key memiliki ketergantungan fungsional pada primary key secara utuh. Suatu atribut dikatakan ketergantungan fungsional jika harga pada atribut tersebut menentukan harga dari atribut yang lain. Misalnya, nim → mhs_nama.
Langkah – langkah :
- Jika terdapat atribut yang bergantung terhadap atribut bukan kunci utama dan merupakan atribut kunci maka pecah menjadi table baru.           
            Sebuah model data dikatakan memenuhi bentuk normal kedua apabila ia memenuhi bentuk normal pertama dan setiap atribut non-identifier sebuah entitas bergantung sepenuhnya hanya pada semua identifier entitas tersebut. Apabila kita perhatikan kembali model data yang telah kita hasilkan di atas, segera terlihat bahwa atribut dari entitas Kelas tidak sepenuhnya bergantung pada identitas unik Kelas tersebut.
Seorang dosen akan tetap ada meskipun kelas matakuliah yang ia ampu sudah tidak ada lagi. Dalam hal ini, dosen adalah entitas tersendiri (yang nantinya dapat dilekatkan pada entitas Fakultas atau Universitas bilamana kedua entitas tersebut dirasa perlu ada, tergantung pada kebutuhan pemodelan data kita).

Tentang Identifier
            Karena beberapa alasan tersebut, entitas Dosen pada model data kita akan menggunakan pengidentifikasi arbitrer berupa Nomor Induk Pegawai sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 3. Dalam notasi crows foot, relasi non-identifying digambarkan dengan garis putus-putus atau tersamar.
Gambar 3: Ketiga entitas utama dalam model data dan hubungan antar masing-masing entitas.

            Setelah atribut-atribut dari semua entitas dalam sebuah model data hanya bergantung pada seluruh pengidentifikasi entitas yang memilikinya, model data tersebut dikatakan memenuhi
bentuk normal kedua.
4.      Bentuk Normal Ketiga (3NF)
Bentuk normal ketiga (3NF) terpenuhi jika :
- Harus telah berbentuk normal kedua (2NF).
- Tidak terdapat anomali – anomali hasil dari ketergantungan transitif. ketergantungan transitif adalah ketergantungan fungsional antara 2 atau lebih atribut bukan kunci.
Langkah – langkah :
- Pastikan semua atribut non kunci bergantung penuh terhadap atribut kunci.
- Pisahkan menjadi tabel baru jika menemukan ketergantungan transitif dalam tabel tersebut.
            Sebuah model data dikatakan memenuhi bentuk normal ketiga apabila ia memenuhi bentuk normal kedua dan tidak ada satupun atribut non-identifying (bukan pengidentifikasi unik) yang bergantung pada atribut non-identifying lain. Apabila ada, pisahkan salah satu atribut tersebut menjadi entitas baru, dan atribut yang bergantung padanya menjadi atribut entitas baru tersebut.
            Dalam model data sederhana yang kita gunakan di sini, tidak ada satupun atribut non-identifying (seperti Deskripsi Tugas Matakuliah, atau Nama Dosen) yang bergantung pada atribut nonidentifying lain. Namun demi adanya contoh, kita misalkan entitas Dosen memiliki atribut informasi Alamat Rumah dan Nomor Telepon Rumah. Keduanya tidak dapat secara unik mengidentifikasi objek tertentu dari entitas Dosen, namun keduanya saling bergantung. Sebagaimana dalam dua langkah normalisasi sebelumnya, jenis kebergantungan seperti ini dapat dihilangkan dengan membuat entitas baru lagi (yang tidak akan diciptakan karena tiga entitas sudah cukup banyak untuk satu artikel).
            Model terakhir yang kita dapat ini telah memenuhi bentuk normal ketiga (third normal form) dan siap dikonversi menjadi tabel.

B.     Tujuan
1)      Mahasiswa memahami pengertian dan tujuan dari Normalisasi
2)      Mahasiswa memahami langkah-langkah dalam Normalisasi

C.     Hasil Praktikum
o   Buatlah Normalisasi dari data berikut

o   Lakukan Unnormalization form

o   Lakukan tahap 1NF

o   Lakukan tahap 2NF

o   Terakhir tahap 3NF


D.    Penutup
Kesimpulan
Dapat disimpulkan dari praktiku kalai ini membahas tentang Normalisasi yang berarti suatu proses untuk mengubah suatu tabel yang memiliki masalah tertentu ke dalam dua buah tabel atau lebih yang tidak lagi memiliki masalah tersebut. dalam proses Normalisasi terdapat beberapa tahapan yaitu Unnormalization form, Bentuk Normal Pertama (1NF), Bentuk Normal Kedua (2NF) dan Bentuk Normal Ketiga (3NF). dari tahapa n tersebut data sudah dikatakan normal apabila sudah mencapai pada tahapan Bentuk normal Ketiga (3NF).
Kritik
Tidak Ada
Saran
Tidak ada
E.     Daftar Pustaka
1)     Raghu Ramakrishnan, Johannes Gehrke. Sistem Manajemen Database, Edisi 3.Andi Publisher : Jakarta.2004
2)      2003-2006 IlmuKomputer.Com
3)      http://mufari.files.wordpress.com/2009/10/normalisasi-database.pdf
4)     http://lecturer.eepis-its.edu/~ariv/Database/T07%20-%20Normalisasi%20Database.pdf
5)      http://kesbangpol.kemendagri.go.id/files_uploads/NORMALISASI.pdf
6)      http://b_lolita.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/37803/NORMALISASI.pdf
7)      http://leeput.files.wordpress.com/2008/11/sbdnormalized_12.pdf
8)      http://blog.stie-mce.ac.id/sandynata/files/2009/06/adhi-database.pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Copyright 2010 My Esperienza Blog
Welcome to My Esperienza Blog